Jumat, 25 April 2008

Sejarah Manusia Adalah Sejarah Payudara (2)

Tatkala Persepsi Cabul Berkuasa

TAK bisa disangkal dalam dunia yang dibangun oleh kumpulan persepsi, maka relasi persepsi yang terbangun oleh bisa jender yang rentan dominasi persepsi kaum laki-laki. Dan lazimnya hukum perilaku, maka berabad-abad lamanya relasi perempuan, kekuasaan, laki-laki dan harta mengerucut menjadi relasi takhta, harta dan wanita. Pendeknya, fitnah perempuan adalah harta, fitnah laki-laki tak lain perempuan. Lalu siapa pada akhirnya yang paling berkuasa dalam relasi itu (baca: berkuasa), maka tak salah jika pada akhirnya ada yang menyebut perempuanlah yang berkuasa. Itu sejalan dengan pandangan yang menyebutkan, perempuan adalah puncak pemujaan pria, tapi sekaligus nadir penistaan. Tapi bagi Mariana Amiruddin persepsi tidak hanya sebatas itu.

Persepsi Pria Persepsi Kecabulan
Tubuh perempuan abad kini, dipenuhi oleh persepsi kecabulan! Sekalipun ia hanya tersingkap, sekalipun atas keinginan si empunya tubuh. Tank-top, tropis, matahari, udara panas, perempuan-perempuan itu mengenakannya dengan rasa nyaman. Tetapi tidak! Itu melanggar kesusilaan. Jangan sekali-kali perempuan memperlihatkan tubuhnya sekalipun itu hanya lengan, karena semua laki-laki akan berhak memperkosa mereka, juga karena malam hari akan segera menangkap mereka.

Begitulah media pada akhirnya menjadi suara terbanyak mengerangkeng perempuan dari kehidupannya, dan menambah jurang bagi kehidupan perempuan sendiri. Karena yang tadinya tidak cabul menjadi imaji kecabulan, lalu perempuan menjadi sasaran empuk kesalahan, sebagaimana rasa sakit mereka ketika menstruasi dan melahirkan anak. Melalui seksualitasnya, ia tidak pernah menjadi berangkat dari dirinya sendiri. Tubuh perempuan seperti instrumen musik yang selalu dimainkan media (baca: laki-laki).

Dan karena laki-laki diberi kehendak seks yang lebih, maka adalah wajar bila eksploitasi bersamaan dengan pengerangkengan perempuan itu ditindaklanjuti. Seperti kata-kata ‘perempuan nakal’ yang tidak lebih baik daripada ‘hidung belang’ lalu perempuan harus pasif dan tabu untuk mengatakan hasrat tubuhnya karena bila ia aktif dan agresif, perempuan akan dihukum secara sosial! Ciptaan masyarakat dan kultur terhadap kehidupan perempuan memang sangat skizofrenik!

Hanya ruang-ruang penderitaan yang harus diisi perempuan, ruang-ruang sadomasokis, ditinggikan lalu dijatuhkan sedalam-dalamnya, lalu ditinggikan lagi, dan dijatuhkan lagi sedalam-dalamnya, begitulah saya katakan di sini media melakukan persepsi yang mendehumanisasi perempuan, lalu melalui media ini perempuan diterjemahkan yang jelas bukan atas diri perempuan sendiri, melainkan atas sebuah konstruksi berupa simbol-simbol, tanda-tanda, pesan-pesan yang ‘diinginkan dunia laki-laki’.

Media akhirnya membuat simbol-simbol perempuan seperti apa, seperti masalah pelacuran bahwa pelacur-lah agen persoalannya, tanpa melihat si hidung belang dan dengan tanpa mau benar-benar si hidung belang itu di shoot sedekat mungkin dan dikatakan bahwa mereka itu adalah penjahat kelamin, membeli tubuh manusia, tubuh perempuan dengan uangnya, dan perempuan menjualnya karena untuk susu anak-anaknya, sedangkan si hidung belang untuk menghambur-hamburkan spermanya sama dengan caranya menghambur-hamburkan uang, atau sekadar mengukur kejantanannya melalui tubuh-tubuh perempuan-perempuan itu.

Lalu libido laki-laki menjadi sesuatu yang alamiah, dan kebutuhan lelaki atas banyak perempuan dan tubuh-tubuh perempuan yang dikotori mereka adalah juga alamiah, dan itu tercover dalam berita-berita kriminal dan perempuan-perempuan menderita lalu laki-laki hanya dipenjara sekian jam dan perempuan terpenjara seumur hidupnya akibat perbuatan laki-laki atas tubuh mereka.

Media Idaman Perempuan?
Ketika tubuh menjadi persepsi yang manusiawi, yang menjadi tidak cabul, yang menjadi milik perempuan sendiri, yang dengan tubuhnya perempuan tidak merasa hina dan tidak pula merasa suci. Dan dari tubuh itu perempuan adalah juga pikiran dan jiwanya.
Perempuan menggambarkan tubuhnya merupakan suatu keputusan perempuan, tetapi ingat bahwa hal itu digunakan untuk mejelaskan pikiran perempuan, dimana seorang perempuan tidak merasa paling suci, tidak juga merasa takut atau hina atas tubuhnya baik dalam hal psikologis maupun seksnya---Virgina Woolf. Pada akhirnya, mohon maaf, sejarah manusia adalah sejarah payudara!

Sejarah Manusia Adalah Sejarah Payudara (1)

Ketika Libido Bersabda

ANDA boleh tidak bersepakat, tapi merupakan aksioma payudara lekat dengan perempuan. Dengan payudaranya, bahkan perempuan diyakini mampu mempengaruhi dan menjadikan hidup ini tak lagi sekedar hitam di atas putih. Itu artinya, perempuan sosok berkuasa. Hanya saja memang tidak semua perempuan memahami. Ironisnya, bahkan sebagian malah senang terkotak-kotak oleh sematan sosial. Sebagian lagi malah senang dengan jerat sesaat kepentingan atas nama eksploitasi kapitalisme komunikasi bernama iklan, dan hiburan.

Itulah mengapa iklan banyak sekali menjadikan perempuan sebagai objek. Begitupun hiburan, tak pernah jauh dari perempuan sebagai pelakon utamanya. Hingga akhirnya, mengutip tulisan Mariana Amiruddin yang juga redaktur Jurnal Perempuan, melalui bukunya “Perempuan Menolak Tabu: Hermeneutik, Feminisme, Sastra dan Seks”, tubuh yang melahirkan kehidupan itu justru membuatnya bermasalah di mana-mana. [di bawah ini kutipan lengkap artikelnya]

Bahan Dasar Ekonomi Libido
Jeratan profan dan sakral itu membuat tubuh perempuan tidak menjadi tubuhnya sendiri. Ia ditangkap dalam kamera, bagian-bagian tubuhnya diabadikan untuk masturbasi para lelaki gila. Ia dikejar-kejar kamera. Ia ‘ditelanjangi’ oleh berita, dipajang di kota-kota, dan bahkan menjadi bahan dasar ekonomi libido. Praktis, semua itu seolah telah tersusun dan dirancang dalam dunia yang bukan miliknya, melainkan justru dunia milik lelaki. Kamera dengan mata lelaki dan berita dengan lidah lelaki.

Sesungguhnya kehidupan diawali oleh tubuh perempuan. Bayangkan bila seorang bayi tidak menyusu. Dari mana lagi ia harus mengenal kehidupan? Sejarah payudara, sejarah tubuh perempuan adalah sejarah umat manusia. Tetapi kemudian kehidupan telah memenjarakannya ke dalam dua dunia yang berbeda, dan celakanya keduanya sama-sama tidak menguntungkan, yaitu dunia profan dan dunia sakral. Dunia sakral atau ‘kesucian’ menjerat perempuan pada proteksi terhadap tubuh karenanya harus ditutupi setiap bagiannya agar tidak tersentuh agar tetap menjadi bersih.

Dunia sakral atau kesucian begitu mengagungkan ‘keperawanan’, sebuah tanda mati lambang kejujuran perempuan lajang dalam memasuki perkawinan dan hanya dengan selaput tipis itu para suami mengukur dan menilai kejujuran sang istri. Dunia profan atau kebejatan sebaliknya, mengadili tubuh perempuan sebagai godaan sekaligus hinaan, oleh karena itu bila tubuhnya telihat begitu indah, ia harus ditangkap. Karena dari payudaranya ia meracuni kesusilaan, dari kedua pahanya dan selangkangannya ia membuat lelaki tergiur memperkosa, dan dari tatapan serta bibirnya ia membuat jantung lelaki berdebar keras dan segera meninggalkan istri-istri mereka.

Kemudian tubuh-tubuh perempuan itu diciptakan dalam bentuk-bentuk yang tidak proposional, payudara dan pantat yang besar atau badan yang kurus dan rambut yang lurus, dan kulit-kulit yang harus putih serta hidung-hidung yang mancung. Tetapi di saat yang sama, tubuh-tubuh itu dipenjara dengan persepsi dalam dua kubu, profan dan sakral, dibuka sama sekali, atau ditutup sama sekali. Dan milik siapakah tubuh-tubuh itu? Tidak pernah menjadi milik mereka sendiri!

Imaji Media, Imaji Laki-laki
Persepsi terhadap tubuh-tubuh perempuan salah satunya adalah dibangun oleh media. Persepsi apakah yang dibangun? Inilah persoalannya, tubuh perempuan yang diasosiasikan dengan alam: reproduksi dan pengasuhan, terus bergeser menjadi kebutuhan ekonomi libido laki-laki, dilihat dalam kapasitas permintaan yang besar dari konsumen media-media porno, dan kebutuhan atas dunia imaji seperti tubuh ‘super ideal’ sesuai dengan kebutuhan laki-laki dalam reklame-reklame.

Sampai pada sumber persoalan moral yang kontroversial: di satu sisi dicerca habis-habisan dan di sisi lain laku untuk ditonton, seperti tayangan kriminal yang dari kameranya fokus hanya mengejar pelacur-pelacur yang ketakutan dan clos up- clos up bagian-bagian tubuh penari-penari di pub-pub malam. Tubuh-tubuh yang bersalah tetapi boleh juga memupuk kekayaan imaji seksual laki-laki. Tubuh-tubuh putih dan coklat dan sumber dari segala pemberitaan yang kontraversial.

Sekali lagi, persepsi apakah yang dibangun oleh kebanyakan media? Bukan tubuh seorang manusia berjenis kelamin perempuan secara natural, seperti ibu-ibu yang mandi di sungai, atau perempuan-perempuan muda yang telanjang dada di menyusui bayinya. Tetapi tubuh itu lebih laku untuk imaji untuk memperkaya khazanah seksual fantasi laki-laki. Ekonomi libido yang memang menggiurkan.

Para lelaki, meskipun di kamar tidurnya sudah ada istri-istri yang tidur seranjang dengan mereka setiap malam, dan tubuh-tubuh perempuan dari perempuan yang telah mereka nikahi, masih kurang saja imajinasi seksual yang mereka khayalkan. Para lelaki rupanya masih membutuhkan ‘tubuh-tubuh’ buatan media, tubuh-tubuh telanjang yang tak proposional dan tidak lebih baik dari istri-istri mereka, atau suara-suara histeria pelacur-pelacur yang tertangkap.

Dan bokong-bokong mereka serta belahan-belahan dada mereka yang tak sengaja tersingkap lalu di situ pula kamera segera menikamnya, dan bahasa-bahasa yang membuat kegiatan perkosaan menjadi nikmat buat seorang kakek, serta seorang nenek yang berjalan sendirian menjadi nikmat diperkosa oleh belasan lelaki muda.

Sungguh, kekerasan serta pelecehan seksual menjadi persepsi baru yang diciptakan media yang seluruhnya diciptakan dari, oleh dan untuk dunia laki-laki. Dunia ini memang milik laki-laki ketika mereka keluar dari rahim-rahim dan vagina-vagina menganga perempuan serta selaput-selaput dara yang bisu, dan air ketuban yang pecah, tumpah meriah di seprai putih rumah sakit serta darah-darah kental yang melumuri plasenta mereka yang lahir, serta teriak tangis bocah laki-laki yang masih tertutup matanya, dan bibir-bibir mungil mereka yang menghisap air susu ibu dengan rakusnya.

Kamis, 24 April 2008

Karl Marx Dimata Temanku Paijo

KONON tubuh manusia, sejak ujung kepala hingga tapak kaki paling bawah membawa dan mengandung ciri ideologi sendiri. Setidaknya itulah yang diungkapkan temanku, sebut saja Paijo. Sehingga sangat mudah untuk memaknai dan menafsirkannya sebagai temuan guna menjawab kegelisahan pemikiran selama ini. Dengan kata lain lanjut dia, tak perlu repot belanja buku karya Karl Marx, ataupun pergi jauh mencari tahu apa itu Kapitalisme.

Lho kok? “Karena semua pemikiran yang saat ini berkembang sudah sangat jelas tergambar dalam anatomi tubuh manusia,” tegas dia. Aku terdiam karena menjadi semakin tak mengerti penjelasannya. “Mudah Mat, coba kamu sebut apa saja pemikiran yang kini menjadi ideologi banyak orang,” perintah dia. Seperti terhipnotis, aku pun sekenanya menjawab: idealis, sosialis, kapitalis, liberalis, dan komunis. “Nah, barusan yang kamu sebut tadi sudah mencerminkan anatomi manusia,” simpul dia.

Aku semakin terdiam. “Kamu tak usah berkerut kening mencari jawabnya,” saran dia. Lantas dia pun berkhutbah, “Itulah manusia suka sekali kepada kerumitan.” Aku kian terdiam, tapi kali ini agak berang. Maksud kamu? Tanyaku meninggi. “Tenang bro, dalam kerumitan selalu ada kesederhanaan,” jawab dia menenangkan aku. Manusia kata dia, diciptakan sebagai mahkluk sempurna. Karena itu lanjut dia, Tuhan dengan sempurna melengkapi makhluk ciptaannya “kesempurnaan” pemikiran.

Aku makin tak paham. “Kamu itu ngomong apa, Jo? Tak jelas gitu!” debatku dengan nada sengit. Paijo hanya terkekeh. Lalu terdiam sejenak. Sebelum akhirnya dengan panjang lebar menceramahiku siang itu. “Jadi?” tanyaku mencoba memotong ceramahnya agar segera ke titik kesimpulan. “Begini Mat,” potong dia cepat. Idealisme kata dia, merupakan pemikiran yang merujuk pada penggambaran yang ideal. Karena ideal, dia hanya ada dan bisa berkembang saat berada di kepala. Artinya, ia hanya bisa menjadi pegangan, dan teori. Namun lanjut dia, idealisme harus ada. Karena dia merupakan alasan utama adanya keinginan.

Hasrat untuk berbuat dan melakukan sesuatu, sekaligus alasan untuk selalu bertanya dan mencari tahu sesuatu. “Idealisme adalah Id, sebagaimana Freud gambarkan dalam psikoanalisanya. Ia berada dalam relung jiwa (psyche) setiap manusia. Bersama ego dan superego, ketiganya membentuk karakter kejiwaan manusia memaknai keberadaanya,” urai Paijo mengutip Sigmund Freud, pemikir besar psikologi. Sosialisme jelas dia, lekat dan identik dengan laku toleran dan selalu berbagi dengan sesama. Senasib sepenanggungan. Kapitalisme sinis dia, dibolehkan mengupayakan segala cara. “Karena kapitalisme memang ujungnya mengumpulkan keuntungan,” kata dia.

Liberalisme sebut dia, sebuah kebebasan. “Free Will!” pekiknya. Sesiapun berhak meyakini apapun yang diyakininya sebagai sesuatu yang terbaik. Sedangkan komunisme sambung dia, “Dari akar katanya, maka terkait dengan upaya mewujudkan pemikiran Karl Marx yaitu sebuah kehidupan ‘idaman’ ala Marxis yang akhirnya gagal dengan adanya pemberontakan Paris Commune,” terang dia. “Maksudnya?” tanyaku. “Tak ada maksud,” jawab Paijo cepat. Dulu lanjut dia, para pengikut Marxis pernah berfikir, pemikiran Karl Marx tentang kehidupan tanpa kelas merupakan keniscayaan. Karena itu mereka coba membangun kehidupan sebuah kota dengan sepenuhnya bersandar pada pemikiran Marx. “Tapi esensinya bukan itu. Paling mudah, awam kan sepakat komunisme adalah sama rata sama rasa,” jelasnya.

Nah, hubungannya dengan tubuh manusia begini sambung Paijo. Tubuh terbagi dalam tiga bagian, yaitu atas, tengah dan bawah. Bagian atas atau kepala berisikan kepala dan didalamnya terdapat otak yang menjadi basis penalaran manusia. “Agar manusia layak mendapat sematan sebagai pemakna alam semesta, maka manusia harus selalu mempunyai idealisme. Dan idealisme hanya ada di rasio,” Itu artinya ujung kepala identik dengan ideologi Idealisme. Bagian tengah ada dada dan perut. Dalam dada ada jantung dan hati. Keduanya merupakan organ penting, dan sejak berabad-abad lamanya diyakini sebagai sumber kebajikan dan perigi toleransi untuk saling berbagi. “Dada atau hati artinya identik dengan Sosialisme ya,” simpulku cepat. Paijo hanya mengangguk pelan.

Lalu perut ideologinya apa? Perut kata Paijo, meskipun setiap harinya selalu termasuki asupan, baik makanan ataupun minuman. Namun setiap kalinya pula tidak pernah merasa kenyang. “Alias selalu merasa lapar!” Karena tak pernah kenyang itu, maka perut selala merasa berhak rakus untuk menghilangkan rasa laparnya. Maka, tak peduli apa bentuknya sepanjang mengenyangkan maka boleh dimakan. “Persis seperti ikan kecil dimakan ikan sedang, ikan sedang dimakan ikan besar, dan ikan itu lalu dimakan ikan yang lebih besar,” jelas Paijo. “Persis seperti game Feeding Frenzy di komputer!” Bagaimana dengan liberalisme?

“Dia terdapat di tubuh bagian bawah. Persisnya bagian bawah perut,” kata dia. Sama seperti perut, bagian itu juga tak pernah merasa puas. Namun bedanya, definis kepuasan yang dicari dan tuju berbeda. Perut lapar kata Paijo, meski setiap harinya diisi indomie kalau sudah terisi pasti kenyang. “Tapi bagian ini (bawah perut), justru sebaliknya. Bukan kekenyangan yang diinginkan, tapi adanya kebebasan untuk menuju rasa kenyang itu,” terang dia filosofis. “Maksudnya?” tanyaku. “Makanya lekas nikah. Agar kamu tidak terpikir menjadi liberalis,” saran dia filosfis. [Cape dech!]

Lalu bagaimana dengan komunisme? Paijo diam sejenak sembari menarik nafas. Komunisme kata dia, awam kerap memahami sebagai ideologi sama rata sama rasa. “Nah, itu artinya itu ada di tapak kaki. Jadi kalau pas jalan kena kerikil dan tak pakai sendal pasti rasa gelinya sama hwakakakakkakakka!” ketawa Paijo. Semprul pikirku. Namun diakhir aku tahu, kenapa komunisme letaknya di kaki. Karena komunisme selalu menyebarkan ideologinya dengan pesan-pesan populis alias menyentuh banyak orang, meski belum tentu penting untuk orang banyak! Apa pasal? “Karena manusia adalah kerumitan dalam kesederhanaan,” simpul Paijo. Akuur deh Jo!

Senin, 24 Maret 2008

Catatan Kedai Kopi (3-Habis)

Air Juga Makhluk!

Setiap tanggal 22 Maret selalu diperingati sebagai Hari Air se-Dunia. Namun tidak sadar, selama berabad-abad lamanya, manusia memperlakukan air seenaknya. Di saat berlimpah keberadaannya tak pernah dihiraukan. Namun di kala terbatas ketersediannya juga selalu menjadi bahan gerutuan. Padahal sebagai barang publik, keberadaan dan ketersediaan air harus dimanfaatkan secara beradab, adil antara kebutuhan dan keinginan. Ironisnya, justru atas nama dua alasan itu, air akhirnya berubah menjadi makhluk yang menakutkan.

Dalam prakteknya, karena kebutuhan air akhirnya menjadi barang yang dikuasai untuk kepentingan berdalih keagamaan. Air karena keinginan, akhirnya juga menyerah menjadi barang yang dikuasai kepentingan ekonomi. Saat air menjadi barang ekonomi, maka saat itulah statusnya sebagai barang publik berakhir. Ia dipuja karena berharga jual. Air menjadi komoditas yang diperjualbelikan, baik saat melimpah apalagi saat terbatas. Dua motif itulah, keagamaan dan ekonomi yang akhirnya membuat air sebagai makhluk tercerabut dari akar keadilannya. Alhasil, air untuk sebagian dipaksa untuk menyandera makluk lain.

Ujungnya bahaya perang juga mengintip, karena aksi klaim dan kesewenangan terhadap keberadaan dan ketersediaan. Apalagi dengan dalih keagamaan, air semakin dibekap suaranya sebagai keadilan dunia. Dia menjadi sesuatu yang sia-sia karena alasan ritual. Menjadi semakin parah, ketika dengan ketersediaan dan keberadaaan itu akhirnya dieksploitasi karena ambisi mengejar rente. Banyak contoh bisa dilihat, sebut saja saat terjadi kenaikan tarif air. Dengan semakin menipisnya cadangan air layak guna, seharusnya keberadaan dan ketersediaan air dikembalikan pada asalnya. Agar hidup ini tidak menjadi panas karena hilangnya rasa keadilan. Karena, untuk alasan apapun dan bagaimanapun, air juga makhluk!

Catatan Kedai Kopi (2)

Memaknai Ayat Ayat Kontemporer

Sejak meledaknya karya sinema berjudul “Ayat-ayat Cinta” besutan Hanung Bramantyo, mengadopsi novel karya Habiburrahman El Shirazy, mencuatkan betapa dahsyatnya kekuatan sastra bagi perubahan sosial, atau setidaknya bagi perdebatan sosial. Baik melalui milis, opini media, lorong perkauman, atau lewat lapak-lapak pedagang kaki lima. Dalam banyak perdebatan itu, saling berkelindan berbagai kepentingan, dan pembenaran.

Tafsir pun bermunculan. Benarkah ada kepentingan kapitalisme di dalamnya? Sungguhkan ada semangat anti kapitalisme di situ? Atau malah, salahkah menjadikannya kepentingan politik atas nama pencitraan diri? Tak jelas ada tidaknya jawaban semua pertanyaan itu. Kecuali sebuah jeda, antara benar dan salah. Biar tak terlarut dalam debat kusir, mungkin sebaiknya simak ujaran Karl Popper, filsuf Inggris sebagai semacam sandaran, “Sesuatu dianggap benar ketika terbukti tidak keliru,” Setelah itu, silakan memaknai ayat-ayat kontemporer tersebut.

Kenapa kontemporer? Novel dan sinema, meski diyakini sebagai alat perubahan sosial, keduanya juga bias terhadap pemaknaan, bahkan kepentingan. Sehingga keduanya tidak netral nilai. Namun sebagai ruang, keduanya merupakan katarsis guna mencurahkan semua pengalaman hidup, bahkan pemikiran sebuah keinginan termasuk yang paling kontroversial sekalipun. Rancunya, kedua fungsi itu berkelindan, bahkan kadang berselingkuh atas semangat “siapa memanfaatkan apa”. Ambil contoh novel Salman Rushdie, “The Satanic Verses”. Sebagai ruang pemaknaan, novel itu sempat menimbulkan perdebatan sosial, bahkan dimanfaatkan sebagai sarana propaganda, baik penentang maupun pendukungnya. Hal serupa juga berlaku untuk novel karya El Shirazy, kali ini untuk kepentingan propaganda membangun citra diri.

Setidaknya tafsir itulah yang bisa disodorkan guna memahami “langkah’ cerdas Jusuf Kalla, dan Ismeth Abdullah. Wakil Presiden RI dan Gubernur Kepri itu seperti mengerti betul psikologi budaya pop guna mendongkrak popularitas. Terlepas untuk mengisi libur panjang, namun pilihan keduanya menonton film “Ayat-Ayat Cinta” terpisah di Jakarta dan Batam, dengan liputan media massa seakan memposisikan diri sebagai bagian masa kini, dan bukan warisan generasi jadul alias jaman dulu. Dan perjalanan budaya kontemporer mengajarkan, setidaknya ada dua pola guna mendongkrak rating ketenaran diri.

Selain melalui laku kontroversi, juga bisa menumpang budaya kontemporer yang sedang meroket saat itu. Apalagi di jaman ketika keinginan bisa direkayasa dengan bantuan media massa, termasuk melalui karya sasta dan karya sinema. Tulisan Bre Redana, Kompas (23/3) bertajuk Agnes sangat cerdas mengulasnya. Mengutip teori Benjamin Barber, yang terkenal dengan bukunya Jihad Vs McWorld, Bre menyebut saat ini sedang terjadi fenomena terbalik. Hadirnya mal, kata dia merujuk buku Consumed-nya Benjamin Barber, tak lebih pabrikasi keinginan (manufacturing of wants). Pada konteks yang sama, dibuatnya film “Ayat-Ayat Cinta” juga dalam upaya meniscayakan kegairahan itu.

Sehingga semakin meledak budaya pop itu, maka kian terkatrol rating diri. Begitupun sebaliknya, kian kontroversial pilihan sikap dan laku terhadap sebuah isu kontemporer, maka semakin mengular pula barisan pendukung paduan suaranya. Novel dan sinema, juga sudah lama menjadi sarana untuk kepentingan itu. Sebut sinema, sudah sejak lama ia menjadi wahana melontarkan gagasan, guna mengetahui respon publik. Sehingga ketika publik memprotesnya, maka bisa dipahami publik belum bisa menerima ide yang difilmkan. Namun demikian, ide itu tidak akan punah, sebaliknya dia tetap membara dan hanya meninggalkan film sebagai tumbalnya.

Lazimnya hukum kekekalan energi, meminjan istilah John F. Kennedy, keduanya (novel dan film) juga mengalami jatuh bangun, pemujaan dan penistaan. Namun ide itu tetap kekal, sekekal kepentingan dalam politik. Tak heran, jika dibalik suksesnya film “Ayat Ayat Cinta” terselip kritik masuknya kepentingan kapitalisme (baca: monopoli). Sederhana saja, kalau film itu dibuat untuk mengejar keuntungan dan tak semata menyediakan hiburan, maka jelas itu bentuk kapitalisme. Namun dari jenis yang tidak membahayakan. Lalu sungguhkan di dalamnya juga ada semangat anti kapitalisme?

Dalam perspektif Hegelian, setiap kehadiran kapitalisme pasti dengan sendirinya dibarengi semangat anti-kapitalisme. Tidak percaya? Tengok saja di lapak-lapal kaki lima, video bajakan film sama dengan mudah ditemukan. Tentu saja dengan harga proletar, yang sejak dulu diposisikan diametral dengan kaum borjuasi pendukung kapitalisme. Lalu apa artinya? Kalau pembajakan adalah cara melawan kapitalisme, maka banjirnya keping film bajakan merupakan manisfestasi semangat itu. Namun dari jenis yang belum jelas keberpihakannya. Dan antara kapitalisme dengan anti kapitalisme ada jeda. Ruang yang bisa dimaknai sesuai kebutuhan, dan kepentingan.

Sebut saja pragmatisme. Sebuah fenomena yang kini sudah kentara dalam kegairahan menyambut datangnya masa wajib tebar pesona 2009. Kerja tebar pesona, kendati kerap disinisi namun tetap menjadi satu-satunya pilihan masuk akal untuk mendulang popularitas. Apalagi dalam budaya politik yang menisbikan kegunaan platform dan kerja-kerja jangka panjang. Semakin pragmatis terhadap kehebohan budaya pop yang berkembang, maka kian jelas anatomi keberpihakan atas nama tebar pesona. Selebihnya, selamat memaknai ayat-ayat kontemporer itu!

Jumat, 07 Maret 2008

Catatan Kedai Kopi (1)

Temanku Zaki dan Bakteri Sakazakii

Tak di desa atau kota, tak di Batam ataupun Jakarta. Beberapa hari terakhir ini para orang tua, khususnya kaum ibu sibuk menyimak siaran televisi, melumat surat kabar, dan memantau terus berita radio. Semuanya tertuju dan berusaha mencari tahu sebuah cerita berjudul enterobacter sakazakii, yang disebut bisa menyebabkan radang otak otak pada balita yang mengkonsumsi susu formula yang dicemarinya. Kisah bermula dari publikasi hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti IPB terhadap sejumlah sampel susu formula balita. Disebut, berdasar hasil penelitian sebanyak 23 persen sampel susu formula yang diuji tercemar. Celakanya, selama dua tahun sejak kesimpulan itu dilaporkan ke Departemen Kesehatan tidak terlihat respon sama sekali. Reaksi baru diberikan setelah masyarakat panik. Kabar baiknya, kendati terlambat publikasinya keputusan tim peneliti membuka temuan sangat tepat. Begitulah komentar editorial sebuah majalah berpengaruh terbitan ibu kota.

Gara-gara kabar itu pula, Zaki temanku mengaku sempat sebal karenanya. Ceritanya, ia sempat diledekin teman kantornya hanya gara-gara namanya mirip dengan si bakteri---What is in a name kata William Shakespeare mencoba menghibur si Zaki. Kendati mengaku sebel, bukan watak Zaki untuk lantas menjadi naik darah apalagi naik pesawat. Sebaliknya, kemiripan dan ledekan itu membuatnya kian sumringah saja saat berangkat kerja ke kantornya, yang berada di bilangan kawasan industri Jakarta Timur. Teman-temannya, terutama perempuan khususnya yang lagi memiliki anak balita jadi teringat bahaya yang di bawa si Zaki, eh maksudku si bakteri Zakii. Ibarat kerja Interpol, kehadiran si Zaki tak ubahnya orange notice (Jus Jeruk kaleee...). "Iya neh Ki, kalau ketemu kamu jadi teringat bakteri susu itu," tutur Zaki menirukan temen perempuan sekantornya, "Tolong dong kasih tahu apa nama merek susu yang tercemar itu," sambung temannya berharap Zaki memberitahu. "Lantas kamu jawab apa?" tanyaku penasaran. "Ya mane ku te he," serunya sembari ngeloyor ke kamar mandi depan kamar kos tempatnya bersarang selama di Jakarta.

Sesaat aku terdiam. Di benakku lantas berhamburan sejumlah pertanyaan. Benarkah respon Depkes RI memang terlambat? Kalau memang terlambat, apa kira-kira yang menjadi alasan menunda penyampaian kabar buruk itu ke tengah masyarakat? Apakah hanya karena tak ingin masyarakat menjadi panik, yang ujung-ujungnya membuat jagad bisnis susu tanah air juga ikutan panik? Atau jangan-jangan ada pertimbangan lain? "Eh Mat, elo lagi mengkhayal jorok ya," tanya dia tiba-tiba sembari melotot ke layar televisi, yang kini sudah kuganti dengan tayangan dvd film Unfaithful (2002). "Lagi mbayangin si Diane Lane ya, secara gimana dia kan favorit elo," cerocos dia tak memberi kesempatan aku sekedar mengatupkan bibir agar tidak melongo. "Tak lagi," jawabku sekenanya. Sembari memamerkan aroma sabun mandinya, Zaki pun duduk persis di atasku di bangku kayu yang katanya selama ini setia menyonkong tubuhnya saat duduk melepaskan beban penat kerja atau pikiran.

"Kesempatan neh," pikirku dalam hati. Ada teman diskusi kata benakku sekali lagi. Lantas aku lontarkan sederet pertanyaan yang sempat berhamburan di benakku tadi. Tak tahunya bukan jawaban yang kudapat, tapi malah senyum nyengir kuda. "Macan tutul!" pekikku tertahan. "Apa Mat," menetralisir kedongkolanku, "Oh...itu," tukas dia seolah sudah mempunyai jawaban. Dia pun lantas berceloteh panjang kali lebar, meski ujungnya dia hanya ingin mengatakan, "Kalau aku berfikiran sepertinya pemerintah sedang menyiapkan sebuah agenda, yang ujungnya sebuah kebijakan baru," Aku semakin melongo. Tak ingin aku terlalu lama melongo dia lantas melanjutkan teorinya. "Bisa jadi pemerintah ingin kembali menggairahnya, secara tersirat kebiasaan memberikan air susu ibu yang kini semakin kalah pamor dengan susu formula," Mendengar jawabannya, dalam hati seketika sepakat dengan teorinya.

Apalagi kecenderungan menggunakan susu formula sebagai pengganti susu juga terlihat semakin menjadi-jadi, bahkan seolah menjadi gaya hidup baru para ibu muda yang terkesima dengan kesempurnaan gizi susu buatan pabrik, rekomendasi ahli nutrisi meski ujung-ujungnya hanya tak ingin kelihatan payudaranya tak lagi berisi. Lagipula dalam banyak kejadian, terlihat kecendrungan masyarakat kita adalah masyarakat latah yang melakukan sesutu bukan pada pertimbangan keperluan, namun semata karena keinginan. Baik keinginan untuk ikut-ikutan kecenderungan gaya hidup, asal tampil beda dan sebagainya. Jadi pilihan menggunakan susu formula semata karena keinginan bukan kebutuhan. Lain cerita mereka yang untuk membeli beras saja tak mampu, maka memberi ASI ke buah hatinya pada konteks yang sama juga bisa diartikan bukan keinginan namun semata karena tidak ada pilihan lain. Fakta lain, terlihat juga adanya kecenderungan sebuah kebijakan akan dipatuhi ketika memang tidak ada pilihan lain lagi. Ya, kultur panik memang selalu menisbikan rasio. Pada titik inilah, kehebohan enterobacter sakazakii seakan menemukan benang merahnya dengan teori Zaki. "Tapi tetap saja tak boleh sinis gitu, Mat," Zaki mengingatkanku.

Faktanya, tulis opini Majalah Tempo, susu formula telah lama menjadi andalan lebih dari separuh ibu Indonesia. Pada 2003 saja, menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 61 persen bayi usia hingga enam bulan bergantung pada susu formula. Survei Hellen Keller International pada 2002 menemukan air susu ibu hanya digunakan rata-rata 1,7 bulan, jauh dari syarat ideal pemakaian ASI selama enam bulan. Pantas saja, lanjut Zaki mengomentari fakta itu, angka kekerasan terhadap anak-anak yang dilakukan orang tuanya tinggi. Rupanya mereka berebut jatah susu toh. "Rupanya ada kesenjangan generasi. Perjuangan kelas," sinis Zaki. Kendati asal bunyi, sinisme Zaki cukup memancing pemikiran. Apalagi jika susu, persisnya susu entah ASI atau susu formula kita pahami sebagai mekanisme ketahanan pangan. Artinya, keberadaan susu merupakan mekanisme hubungan suplai pangan kepada bayi. Itulah mengapa setiap bayi menangis pasti terdiam saat disusui ibunya, atau diberikan susu. Karena diyakini tangis itu merupakan bentuk komunikasi bayi saat lapar atau haus. Dan sebuah penelitian kabarnya membuktikan itu, bahkan mengungkapkan fungsi antara satu dengan payudara lainnya berdasar fungsinya, sebut saja bagian kiri ASI "makan" dan bagian kanan ASI "minum"

Pada saat yang sama, susu kalau coba dilebarkan sebagai pangan maka ujungnya juga kekuasaan. Imbasnya menciptakan mekanisme ketergantungan. Pangan dan kekuasan sendiri memang sangat berkaitan erat. Setidaknya merujuk pada tulisan Susan George yang berjudul Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan (2007). Dia katakan, kelaparan yang melanda manusia tidak disebabkan oleh hal-hal mistis. Kelaparan yang melanda secara luas bukanlah kutukan Tuhan, sehingga kita tidak perlu repot-repot bertapa atau bersemadi mencari penyebabnya. Kelaparan sebenarnya terjadi karena ulah manusia sendiri: seperti keserakahan segelintir manusia yang merampas sumber daya. Paralel dengan argumentasi itu, maka seorang ibu yang rela mengganti ASI dengan susu formula untuk buah hatinya---apalagi untuk alasan egois kesempurnaan penampilan--- sejatinya juga tengah menciptakan sebuah kelaparan berupa "kelaparan" hubungan psikologis. "Tapi payudara (payu+dara), kalau dimakna bebas berdasar asal kata kan berarti sarana agar sang empunya laku, minimal menjadi daya tarik lawan jenis," sinis Zaki sekali lagi, sembari mengurai kata Payu yang berarti Laku dalam bahasa Jawa, dan Dara yang berarti gadis. Lalu apa hubungannya dengan bakteri? Aku dan Zaki tak bisa lagi berteori. Namun, kami berdua meyakini sekiranya itu juga jenis bakteri, maka bukan jenis yang membahayakan, namun sebaliknya malah memabukkan. Tabik!

Kabar Sang Waktu

Tidak ada yang bisa membantah, semua yang berserak dan terhampar dalam kehidupan sepenuhnya merupakan rencana Tuhan, dan sepenuhnya hak milik Yang Maha Kuasa. Massa, gravitasi, termasuk sang waktu juga sepenuhnya kuasa Yang Maha Memiliki. Sehingga manusia tidak bisa membalikkan waktu, sekalipun itu diinginkan karena alasan tertentu. Pada akhirnya manusia hanya bisa berencana, dan mencoba menjadi pemakna jeda antara waktu dan keabadian. Sebab daur hidup, jejaring kehidupan, perjalanan waktu, dan semua sirkumtasi kejadian memang sepenuhnya kuasaTuhan, dan hanya Dia pula yang menentukan segala-galanya. Termasuk akhir sebuah jalan cerita hidup. Lazimnya daur hidup, maka proses ada meniscayakan hadirnya ketiadaan. Semua hadir dan mengalir lazimnya lembayung petang menyambut datangnya sang fajar. Terus mengalir dan berdaur ulang layaknya lenting jarum jam saat bersama-sama berada di angka 12. Kulminasi sekaligus nadir sebuah perjalanan waktu. Selebihnya, pendulum waktu terus bergulir dan bergilir, sembari menghitung urut kacang daftar tunggu. Ada besar maka ada kecil. Ada suka tentu saja menunggu duka. Berdaya sekaligus tak berdaya. Semua berpasangan, agar hukum alam berjalan, daur hidup berkesinambungan. Sesungguhnya yang datang dari Tuhan juga akan kembali keharibaan Yang Maha Mencipta pula. Terima kasih kebersamaan. Selamat Jalan Kenangan. (dedicated to my beloved parents)