BEBERAPA hari terakhir, entah kenapa kami bersama sebagian kawan tiba-tiba saja suka bicara soal jurnalisme, termasuk beberapa variannya. Namun di antara perbincangan, yang tiba-tiba tercetus begitu saja, agaknya mencuat dua varian jurnalisme yang selalu mengusik, bukan hanya untuk diperdebatkan tapi juga dicemooh. Apalagi kalau bukan (1) Jurnalisme Sontoloyo, dan (2) Jurnalisme Bantuan Langsung Tunai (BLT)!
Entah kenapa tiba-tiba dua jurnalisme itu begitu menarik dibicarakan, bahkan renyah untuk dijadikan bahan olokan. Padahal, kalau boleh jujur, sebagai sebuah varian jurnalisme keduanya terhitung banyak pengikutnya. Setidaknya hingga kami sepakat mengakhiri perdebatan beberapa hari yang lalu. Tapi, berbicara jurnalisme sebenarnya banyak jenis dan varian jurnalisme. Kalau merujuk sejarah, terutama di Amerika Serikat di masa keemasan Joseph Pulitzer---terakhir namanya diabadikan sebagai anugerah tertinggi jurnalistik di negeri Paman Sam, dan Wiliam Randolph Hearst, maka mengemuka jurnalisme sensasi.
Sebuah genre jurnalisme yang dibangun berdasar kabar burung, gosip dan sensasi. Meski sebenarnya kadang juga merupakan fakta yang terkesan fiksi. Namun pada sat itu, boleh disebut jurnalisme sensasi memang sedang mendapatkan momentum. Maka, dua nama yang sepanjang hidupnya terus menerus bersaing sehingga membuat negeri Paman Sam akhirnya menjadi kiblat jurnalisme, meraih reputasi sangat tinggi di masyarakat. Informasi yang mereka beritakan selalu beroleh sambutan antusias.
Dengan sedikit bumbu okultisme, takhayul, bahlul, laporan yang penuh sensasi, dan penulisan hiperbolik keduanya berlomba menawarkan sebuah pemberitaan yang menawarkan semangat “pencerahan” jaman. Tentu saja Amerika Serikat jaman perkembangan. Sejarah akhirnya mencatat, kehadiran mereka dengan berita sensasi itu menandai lahirnya jurnalisme khas yellow newspaper alias koran kuning. Sebuah genre yang sejauh ini terus berhasil menadapat tempat di hati masyarakat lantaran pemberitaan bombastis, mistik, dan kadang berdarah-darah.
Selain jurnalisme itu, sejarah juga mencatat varian jurnalisme lain seperti jurnalisme investigasi yang mencapai puncaknya saat dua wartawan Washington Post, Woordward dan Bernstein berhasil mengungkap skandal Watergate yang akhirnya menjungkalkan Presiden Richard Nixon. Tapi, sejarahnya sendiri seperti tulis Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam 9 Elemen Jurnalisme, bermula beberapa tahun sebelumnya. Persisnya, Amerika Serikat pascaperang dunia II. Terakhir, keberhasilan itu diangkat ke layar perak dengan judul film “All President’s Men”
Lalu muncul pula jurnalisme sains, bisnis, olahraga, dan paling gres seiring dengan semangat jaman, dan kemajuan teknologi informasi yaitu jurnalisme warga (citizen journalism). Kemunculan jurnalisme ini berangkat dari premis, dengan berkembangnya teknologi, maka kekuasaan informasi tidak lagi monolitik. Dengan kata lain telah terjadi demokrasi informasi melalui bantuan teknologi. Informasi bukan lagi monopoli media konvensional yang monolog, tapi sebuah forum masyarakat yang terbingkai dalam sebuah dialog digital. Kemunculannya juga diyakini oleh sebagian pemikir dan pengamat media, lantaran bakal berakhirnya masa keemasan kiprah media konvensional. Disebut 2044, media cetak diperkirakan akan berakhir. Keyakinan itu didukung kian menurunya tiras media cetak, dan pada saat yang bersamaan mulai digandrungi media online. Tapi, di antara semua varian itu paling menarik menurut aku, tentu saja jurnalisme yang selama ini diyakini Leonard Downie Jr, Pemred Washington Post yang belum lama ini menyatakan pensiun setelah mengawal koran kebanggaan Katherine Graham meraih 25 penghargaan Pulitzer selama 17 tahun kepemimpinannya.
Apalagi kalau bukan jurnalisme akuntabilitas. Sebuah jurnalisme yang dibangun, bukan semata mendasarkan pada fakta tapi juga berusaha menghindari sensasi. Tak heran, Downie beberapa kali menunda pemuatan berita yang sebenarnya kalau bicara pasar bakal laku keras, hanya lantaran belum memenuhi aspek akuntabilitas, baik secara jurnalistik maupun secara etik. Selain jurnalisme semua itu, kita juga mengenal jurnalisme sentuhan (touching journalism) yang berkonsep empati, dengan mengulurkan bantuan meringankan derita sesama. Sebuah jurnalisme, yang menurut aku, sangat pas dengan kondisi negeri kita saat ini.
Sebuah koran terbitan Batam secara konsisten mengusung jurnalisme jenis ini. Hampir lupa, ada juga jurnalisme pariwara alias jurnalisme kapital. Sebuah jurnalisme yang dirancang berdasar siapa yang bayar [mohon maaf!] dan semata-mata untuk menumpuk kapital, agar modal terus membesar. Tapi, di saat kapitalisme juga menjangkiti media massa dan telah menjadi sebuah industri maka, sedikit mengutip Tajuk Rencana Kompas (28/6) berjudul “Media Massa dan Determinasi Pasar”, maka dalam pemahaman saya merupakan sesuatu yang tak terbendung, atau niscaya dalam semangat untuk bertahan hidup. Hanya, ironisnya seringkali tafsir untuk menghamba ke pasar itu justru dipicu oleh pengelola koran itu sendiri.
Nah, kini kembali ke obrolan kami beberapa hari terakhir sekaligus menambah deretan jurnalisme yang pernah dikenal. Pertama, tentu saja jurnalisme sontoloyo---meninjam istilah Kepala BIN Syamsir Siregar. Yaitu sebentuk jurnalisme yang semata-mata lahir dan didorong perilaku pragmatisme. Ketika etika, dan rasa profesi dinisbikan untuk merengkuh sesuatu yang absolut (baca: uang, tapi bukan berupa amplop loh!). Kedua, ini yang paling asyik diperbincangkan, yaitu jurnalisme BLT, alias jurnalisme bantuan langsung tunai (baca: jurnalisme amplop, begitu wawancara terima amplop). Seperti banyak pengamat masalah sosial sebutkan, bantuan langsung tunai (BLT) disebut tidak mendidik, tapi untuk saat ini memang dibutuhkan. Maka jurnalisme BLT juga berlaku aturan yang sama.
Jurnalisme BLT tidak lain jurnalisme memberi ikan, dan bukan kail (kata pengamat loh!). Tapi, uniknya varian jurnalisme lama ini selalu berhasil mendapatkan dukungan baru setiap waktu. Bahkan keberadaannya seakan telah menjelma menjadi berhala. Apalagi di saat deretan angka merupakan keniscayaan, dan ukuran sebuah kesuksesan. Sebuah perilaku, meminjam istilah Goethe dalam lakon Faust, yang subur menjamur di saat sesiapapun rela menggadaikan kepalanya untuk kepentingan “ideologi” perut, dan bawah perut. [informasi terkait baca tulisan Karl Marx di Mata Temanku Paijo—pen]. Lalu kenapa itu bisa terus terjadi? Tentu bukan kapasitas aku untuk menjawabnya, dan malah boleh jadi Anda, sidang pembaca yang bisa menjawabnya. Tabik!
Senin, 30 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar