Minggu, 03 Februari 2008

Sebuah Paradoks!

Entah usia bumi yang semakin menua, atau justru manusia yang kian uzur memaknai berkurangnya umur. Beberapa waktu terakhir, tanpa mengenal hari benderang atau gulita, dan melalui pemberitaan berbagai media massa. Cerita nestapa dan laku durjana tak henti-hentinya, sepanjang waktu perjalanan bulan mengitari bumi, menghiasi setiap tarikan nafas gambar besar kehidupan bernama dunia dalam berita.

Bencana, perang, wabah, musibah, tindak kejahatan dan kemuraman lainnya selalu menyeruak begitu indera membelalak: menatap layar kaca, membentang kertas baris berkolom, atau mendengar pesan melalui siaran kata. Semuanya senada, dan berisi sama bak paduan suara mendendang pujian datangnya thanatos, anak nyx dan erebos, sekaligus saudara kembar hypnos dalam mitologi Yunani kuno.

Siapa thanatos? Ia tak lain kemuraman. Personifikasi kematian dan keabadian. Lazimnya kutukan yang hendak dihindari, keberadaannya selalu ditolak tapi juga tak bisa dielakkan. Mungkin karena membawa pesan kemuraman itulah, seperti tulis Wikipedia, sosok yang dipercayai berujud anak muda bersayap itu, tak pernah tuntas tergambar sebagai manusia utuh. Bahkan jarang sosoknya dimunculkan sebagai manusia paripurna, kecuali sebagai metafora genderang malapetaka.

Ia lahir dari rahim dewi penguasa malam (nyx), hasil buah cinta dengan penguasa kegelapan (erebos). Dan erebos diyakini anak dari chaos, tetua dunia kegelapan. Karena itu, sebagian legenda menyebut erebos tak lain saudara sedarah hades, sang pangeran kegelapan. Singkat cerita, penguasa kematian itu mempunyai delapan saudara, termasuk kembarannya hypnos atau sang penguasa rasa kantuk. Tujuh saudara lainnya, seperti asal usulnya, juga tak kalah muramnya.

Sebut saja gera, tauke usia tua. oizys, datuknya penderitaan. Lalu moros, bandar kehancuran. Apate (deception), momos (blame), eris (strife) dan nemesis (retribution). Oleh Sigmund Freud, thanatos dalam karyanya berjudul Beyond the Pleasure Principle (1920) disebut sebagai insting kematian. Pada jiwa manusia, lanjut Freud, bersemayam dua keinginan (drive), yang saling berlawanan tujuan dan sifat. Yaitu keinginan libido (eros) dan thanatos, atau insting kematian.

Keinginan libido itu, pada akhirnya melahirkan keinginan untuk hidup (bukan hanya urusan perut dan bawah perut---hwakakakak!), hingga akhirnya beranak pinak menjadi hasrat kreatif, harmoni, persentuhan seksual, reproduksi hingga terjaganya kelangsungan generasi. Persis seperti tamsil filsuf Perancis, Voltaire [kalau keliru silakan dikoreksi!] yang menyebut “syahwat ibarat layar bagi sebuah biduk”

Sedangkan thanatos tak lebih hasrat merusak, dan menghancurkan termasuk diri sendiri. Ia juga mewakili watak agresi, kompulsi dan repetisi. Khusus hasrat menyakiti diri sendiri itulah yang menjadi alasan Freud menyebut thanatos sebagai faktor pemicu terjadinya laku menyudahi episode diri. Sedangkan agresi, dan keinginan menghancurkan yang ditujukan ke luar menjadi alasan pemicu terjadinya tindak kejahatan seperti meniadakan hak hidup orang lain. Keduanya diyakini sebagai tindak durjana.

Kendati demikian, konon, tindak durjana hadir sebagai pencerah laku sarjana, atau tingkah budi baik. Agar keberadaan budi baik tidak menjadi monolit, dan monopolistik. Sebab keduanya sebagai praksis “keberadaan” cenderung otoriter, dan kabar itu tak baik bagi keseimbangan hukum alam atas nama harmoni. Alasan lain, sesuatu disebut laku baik bila ada oposisi, atau pembanding. Tidak heran jika laku tersebut, bagi sebagian pemikir sosiologi kejahatan, dianggap keniscayaan hadirnya sebuah harmoni. Keseimbangan hukum alam. Sebuah paradoks! : perih Emile Durkheim.

Tidak ada komentar: